Super Junior Myeolchi ^^

Super Junior Myeolchi ^^
My Beloved Myeolchi ^^

Sabtu, 12 November 2011

My Love My Kiss My Heart [Part. 1]

Author: Renz
Tittle: My Love My Kiss My Heart Part. 1
Kategori: Gado-gado :p
Cast:
- Sandy as Kim Jae Yi
- Eunhyuk as Lee Hyuk Jae a.k.a Eunhyuk Suju
Note: Cerita di part ini di ambil dari sudut pandang seorang yeoja, Kim Jae Yi.
Fanfic ini adalah ff pesenanku ke adik sepupuku, Renz, yang cinta banget sama maknaenya SHINee, Lee Taemin, tapi mau aja bikini ff soal aku sama si Dancing Machine nya Suju.. Wkwkwkwkwkwk…
Tapi tetep, aku ikut andil dalam pengetikan… Hehehehe… ^^v
Gomawoyo Renz… :D
Oh ya, buat yang sudah sudi mampir ke blogku ini n baca ini FF, mohon komennya ya… Semua jenis komen n bashing di terima koq… Gamsahamnida… *bow bareng Eunhyuk* ^,^
Happy Reading all… ^^
- Kim Jae Yi POV –
Aku adalah Kim Jae Yi, seorang gadis dengan wajah yang lumayan cantik dan kehidupan yang biasa-biasa saja yang sekarang sedang mengalami sedikit kesialan. Saat ini, aku sedang berjalan-jalan di daerah myeondong untuk sekedar belanja baju untuk hadiah sepupuku yang di terima di sebuah perusahaan besar (harusnya aku yang di kasi hadiah -_-). Setelah selesai belanja, aku iseng mampir ke sebuah café karena aku sedang haus. Entah mimpi apa aku semalam, hingga aku harus mengalami kejadian ini.
@ café
Aku menyiramkan segelas minuman dingin yang ada di meja ke atas kepalanya. Air berwarna coklat yang lengket dan es batu, membasahi rambutnya, mengalir mengotori wajahnya. Wajahnya terlihat shock dengan seranganku yang tiba-tiba. Dia mendongak melihatku, aku semakin kesal setelah melihat matanya. Ingin ku congkel mata sipit yang tak merasa bersalah itu untuk kujadikan makanan anjing. Belum puas rasa kesalku, maka akupun menamparnya.
PLAKKK!!!
Suara tamparanku yang begitu keras mendarat sempurna di pipi kirinya. Pipinya jadi merah karena tamparanku. Semua orang di kafe memperhatikan kami. Pandangan mereka seakan tidak suka melihat ini. Aku tak peduli.aku tak memikirkan rasa malu saat ini. Aku hanya memikirkan bagaimana memuaskan rasa kesalku pada namja di depanku ini.
Sungguh hancur hatiku sekarang. Namjachingu yang ku sayang, yang ku percaya, segalanya bagiku, kini dia sedang berdua dengan seorang yeoja dan bercanda mesra. Dia berdiri, memandangku dingin. Aku sungguh sedih melihatnya memandangku seperti itu. Ingin menangis rasanya. Tapi, rasa kesal dan sakitku lebih besar dibanding keinginanku untuk menangis.
“Kau sudah puas? Sekarang pergilah, aku tak mau melihat wajahmu lagi!!!” akhirnya dia membuka suara.
Apa katanya tadi? Harusnya aku yang bilang seperti itu. Begitu dingin perkataannya padaku. Sudah tak ada lagi cinta di matanya untukku.
“Dasar SAMPAH!!!” umpatku kesal.
Ku mengangkat jari tengahku untuk menghina mereka. Akupun segera keluar. Tak tahan kalau tetap disana.
Aku berlari dan terus berlari tanpa memikirkan tujuan. Aku hanya mengikuti kemanapun kakiku membawaku berlari seperti orang gila. Pikiranku kacau. Air mataku mulai mengalir membentuk aliran sungai kecil di wajahku. Haha, padahal aku berusaha untuk menahannya. Tapi akhirnya, tetap saja tumpah.
Kenapa? Kenapa aku mengalaminya lagi? Tiga kali pacaran, tiga kali diselingkuhin, tiga kali pula patah hati. Arrrggghhh sial, sial, siaaaaaallllll!!!!!!!!!
Apa aku tak pantas mendapatkan cinta? Apa aku tak pantas bahagia? Apa yang kuperbuat hingga Tuhan menghukumku seperti ini? Tuhan, apa salahku? Beritahu aku. Aku akan berusaha memperbaikinya.
Bruk!!!
“Awwww…” aduhku.
Aku jatuh tengkurap di tengah jalan. Tersandung apa ya aku tadi? Orang-orang menertawakanku.
‘Memang apa yang lucu dari musibah seseorang?’ umpatku dalam hati. Aku kesal sekaligus malu ditertawakan oleh mereka. Aku merasakan ada cairan hangat yang keluar dari hidungku. Aku menghapus cairan itu dengan tanganku.
“Huwaaaaaaaa……!!!” Teriakku, shock melihat cairan merah kental yang ada di tanganku.
DARAH???!!! Aku mimisan? Cairan itu terus keluar dari hidungku. Aku panik tapi tetap berusaha menghentikannya dengan menutup hidungku. Aku tak tau harus bagaimana. Ini pertama kalinya aku mimisan. Bagaimana ini???
Seseorang menarik lengan kiriku. Aku pun mendongak menatapnya.
“Berdiri. Kamu tidak malu terus-terusan duduk di tengah jalan begini?” Ucapnya sambil menarik lenganku hingga aku berdiri.
Aku dibawa pergi dari sana. Siapa dia? Entah kenapa, walaupun aku tak kenal, tapi aku tak kuasa menolak dibawa pergi olehnya. Aku tak tahu kenapa? Mungkin karena aku baru patah hati, jadi butuh seseorang untuk menemaniku. Aku terus menutup hidungku yang masih mimisan. Sekarang darahnya sudah tidak keluar banyak lagi seperti tadi. Sembari jalan, aku memperhatikan orang yang membawaku ini. Sebenarnya mau dibawa kemana aku ini? Dari tadi hanya berjalan saja. Aku terus memperhatikannya. Badannya tinggi juga. Tapi menurutku dia sedikit aneh. Matahari sangat terik sekarang. Tapi dia malah memakai jaket tebal dan sebuah syal yang bergelantungan dilehernya.
Apa dia gak kepanasan ya? Heran juga aku melihatnya. Hehehe.
Kami melewati taman yang banyak bunganya *yaiyalah, masak banyak binatangnya? ^^v* Di tengah taman ada lapangan basket.
‘Taman yang indah, tapi terlalu sepi untuk taman sebesar ini.’ Batinku
“Duduklah disini,” katanya tiba-tiba.
Aku langsung duduk karena memang aku sudah lelah terus-terusan mendapat masalah di tambah lagi berjalan kaki yang lumayan jauh barusan (?). dia merogoh sakunya, mengambil sebuah saputangan lalu diberikan padaku.
“Pakailah, untuk menahan darah yang keluar,” ucapnya.
Akupun menerimanya dan segera ku tutupkan ke hidungku. Kalau di lihat-lihat, dia lumayan tampan. Sayangnya dia memakai kaca mata hitam, sehingga aku tidak tau bagaimana matanya. Aku berpikir sejenak, jangan-jangan dia vampire? Habis dia pakai baju yang tebal dan tertutup rapat begitu. Apalagi dia menarikku yang sedang mimisan. Mungkin dia tergiur dengan bau darahku. Hahaha. *plak*
Mana mungkin… tapi kalau seandainya benar? Aku terdiam. Berhenti berpikir yang tidak-tidak.
“Tunggulah disini sebentar, aku akan membelikan minuman untukmu.” Ujarnya.
Kemudian dia berlari ke minimarket di seberang jalan. Aku terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba itu.
“Oppa, tidak perlu. Aku tidak mau merepotkan.” Teriakku padanya. Namun dia terus berlari. Sepertinya dia tidak mendengar teriakanku.
Hah, ya sudahlah. Akupun memutuskan untuk menunggunya sambil membaca novel Harry Potter *darimana nih buku ya?* yang belum selesai ku baca. Darah yang mengalir dari hidungku sudah berhenti. Sapu tangannya telah penuh dengan darahku. Mungkin aku akan membelikannya saputangan yang baru. Keadaan saputangannya sudah tidak layak. Aku memperhatikan minimarket di seberang, ‘lama sekali. Ngapain aja sih dia?’ batinku.
Ah, baru juga diomongin tidak keluar-keluar, dia sudah berlar-lari ke arahku dengan menenteng (?) sekantong tas plastic besar yang isinya penuh. Apa saja yang di beli?
“Mian lama,” ucapnya sambil tersenyum meskipun ngos-ngosan. *bayangin gummy smilenya.. ^^*
Aku menggelengkan kepalaku.
“Gwenchanayo oppa..” sahutku sambil tersenyum.
“Aku belikan susu. Tapi, karena aku tidak tau kamu suka yang mana, jadi aku beli semuanya,” ujarnya sambil membuka lebih lebar tas itu. Aku menunduk melihat isi tas itu. Mulai dari banana milk, strawberry milk *ini siy favoritnya si kunyuk.. ^^* , melon milk, choco milk, vanilla milk, coffee milk dan masih banyak yang lainnya. Kalau kusebutkan satu persatu, bisa-bisa sepanjang membahas skripsi.
“Banyaknya…… Mau di jual lagi ya oppa?” tanyaku bercanda. Dia hanya tersenyum. ‘manis’ batinku. J
“Kau memanggilku ‘oppa’?” dia balik bertanya.
“Kau terlihat lebih tua dariku. Jadi aku memanggilmu oppa. Kau tidak suka, atau ternyata kamu lebih muda dariku?” ucapku.
“Berapa umurmu?” tanyanya.
“22 tahun,” jawabku langsung.
“Hm, kamu memang harus memanggilku oppa,” ujarnya sambil menunjukkan gummy smile nya.
“Arraso oppa,” jawabku, tersenyum.
Drrrttt… Drrrttt…
Suara getar hp. Sepertinya bukan punyaku. Karena dari tadi hp ku mati. Dia mengambil hp dari saku celananya. Dia agak menjauh saat menerima teleponnya. Tak lama pembicaraan pun selesai.
“Oppa, kembali saja kalau oppa sibuk,” kataku saat dia sudah ada di hadapanku.
“Ne, hajiman, aku akan menyelesaikanmu dulu,” ucapnya.
Mwo? Maksudnya?
Dia tiba-tiba berlutut di depanku. Hal itu sukses membuatku salah tingkah *GR banget ya? #plakk* Lalu dia membersihkan kakiku yang lecet saat jatuh tadi dengan air putih yang dibelinya. Kemudian dia mengambil obat merah dan plester dari kantong plastik. Di oleskannya obat merah itu ke kakiku lalu ditempelkannya plester ke lukaku.
Dia melihatku, lalu tersenyum.
“Kenapa wajahmu memerah seperti udang rebus gitu?” ujarnya sambil tertawa kecil dan mencolek pipiku.
Eh? Wajahku memerah? Aku tidak sadar. Ya, mau bagaimana lagi. Aku malu diperlakukan seperti itu.
“Gomawo oppa,” kataku
“Gwenchanayo. Lain kali lihat langkahmu, jangan sampai jatuh lagi,” ujarnya sambil mengacak-acak rambutku.
“Ne oppa,”
“Aku harus kembali. Hati-hatilah pulangnya dan jangan lupa susunya diminum. Annyeong,” pamitnya sambil tersenyum.
Aku mengangguk. Kemudian dia berjalan meninggalkanku. Oh ya, aku lupa belum menanyakan namanya. Pabo!!!
“Oppa, siapa namamu?” teriakku padanya yang sudah berjalan agak jauh.
Dia menoleh mendengar panggilanku.
“Lee HyukJae,” jawabnya sambil melambaikan tangan padaku.
Aku tersenyum membalas lambaian tangannya. Lee Hyuk Jae? Aku seperti pernah mendengar namanya. Tapi dimana ya? Entahlah aku pikir nanti saja. Akupun berjalan pulang dengan perasaan senang. Sakit hati yang tadipun terlupakan.
“Lee Hyuk Jae,” gumamku. J
-To Be Continue-
Note: Pliz… pliz… pliz komen ya… Aku pengen bikin FF sendiri juga soalnya. Hehehehe… ^^v
Gamsahamnida… :*
-Kim Jae Yi-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar