Author: Renz
Tittle: My Love My Kiss My Heart Part. 1
Kategori: Gado-gado :p
Cast:
- Sandy
as Kim Jae Yi
- Eunhyuk as Lee Hyuk Jae a.k.a Eunhyuk Suju
Note: Cerita di part ini di ambil dari sudut pandang seorang
yeoja, Kim Jae Yi.
Fanfic ini adalah ff pesenanku ke adik sepupuku, Renz, yang
cinta banget sama maknaenya SHINee, Lee Taemin, tapi mau aja bikini ff soal aku
sama si Dancing Machine nya Suju.. Wkwkwkwkwkwk…
Tapi tetep, aku ikut andil dalam pengetikan… Hehehehe… ^^v
Gomawoyo Renz… :D
Oh ya, buat yang sudah sudi mampir ke blogku ini n baca ini
FF, mohon komennya ya… Semua jenis komen n bashing di terima koq… Gamsahamnida…
*bow bareng Eunhyuk* ^,^
Happy Reading all… ^^
- Kim
Jae Yi POV –
Aku
adalah Kim Jae Yi, seorang gadis dengan wajah yang lumayan cantik dan kehidupan
yang biasa-biasa saja yang sekarang sedang mengalami sedikit kesialan. Saat
ini, aku sedang berjalan-jalan di daerah myeondong untuk sekedar belanja baju
untuk hadiah sepupuku yang di terima di sebuah perusahaan besar (harusnya aku
yang di kasi hadiah -_-). Setelah selesai belanja, aku iseng mampir ke sebuah café
karena aku sedang haus. Entah mimpi apa aku semalam, hingga aku harus mengalami
kejadian ini.
@ café
Aku
menyiramkan segelas minuman dingin yang ada di meja ke atas kepalanya. Air
berwarna coklat yang lengket dan es batu, membasahi rambutnya, mengalir
mengotori wajahnya. Wajahnya terlihat shock dengan seranganku yang tiba-tiba. Dia
mendongak melihatku, aku semakin kesal setelah melihat matanya. Ingin ku congkel
mata sipit yang tak merasa bersalah itu untuk kujadikan makanan anjing. Belum
puas rasa kesalku, maka akupun menamparnya.
PLAKKK!!!
Suara
tamparanku yang begitu keras mendarat sempurna di pipi kirinya. Pipinya jadi
merah karena tamparanku. Semua orang di kafe memperhatikan kami. Pandangan
mereka seakan tidak suka melihat ini. Aku tak peduli.aku tak memikirkan rasa
malu saat ini. Aku hanya memikirkan bagaimana memuaskan rasa kesalku pada namja
di depanku ini.
Sungguh
hancur hatiku sekarang. Namjachingu yang ku sayang, yang ku percaya, segalanya
bagiku, kini dia sedang berdua dengan seorang yeoja dan bercanda mesra. Dia
berdiri, memandangku dingin. Aku sungguh sedih melihatnya memandangku seperti
itu. Ingin menangis rasanya. Tapi, rasa kesal dan sakitku lebih besar dibanding
keinginanku untuk menangis.
“Kau
sudah puas? Sekarang pergilah, aku tak mau melihat wajahmu lagi!!!” akhirnya
dia membuka suara.
Apa
katanya tadi? Harusnya aku yang bilang seperti itu. Begitu dingin perkataannya
padaku. Sudah tak ada lagi cinta di matanya untukku.
“Dasar
SAMPAH!!!” umpatku kesal.
Ku
mengangkat jari tengahku untuk menghina mereka. Akupun segera keluar. Tak tahan
kalau tetap disana.
Aku
berlari dan terus berlari tanpa memikirkan tujuan. Aku hanya mengikuti
kemanapun kakiku membawaku berlari seperti orang gila. Pikiranku kacau. Air
mataku mulai mengalir membentuk aliran sungai kecil di wajahku. Haha, padahal
aku berusaha untuk menahannya. Tapi akhirnya, tetap saja tumpah.
Kenapa?
Kenapa aku mengalaminya lagi? Tiga kali pacaran, tiga kali diselingkuhin, tiga
kali pula patah hati. Arrrggghhh sial, sial, siaaaaaallllll!!!!!!!!!
Apa
aku tak pantas mendapatkan cinta? Apa aku tak pantas bahagia? Apa yang
kuperbuat hingga Tuhan menghukumku seperti ini? Tuhan, apa salahku? Beritahu
aku. Aku akan berusaha memperbaikinya.
Bruk!!!
“Awwww…”
aduhku.
Aku
jatuh tengkurap di tengah jalan. Tersandung apa ya aku tadi? Orang-orang
menertawakanku.
‘Memang
apa yang lucu dari musibah seseorang?’ umpatku dalam hati. Aku kesal sekaligus
malu ditertawakan oleh mereka. Aku merasakan ada cairan hangat yang keluar dari
hidungku. Aku menghapus cairan itu dengan tanganku.
“Huwaaaaaaaa……!!!”
Teriakku, shock melihat cairan merah kental yang ada di tanganku.
DARAH???!!!
Aku mimisan? Cairan itu terus keluar dari hidungku. Aku panik tapi tetap
berusaha menghentikannya dengan menutup hidungku. Aku tak tau harus bagaimana. Ini
pertama kalinya aku mimisan. Bagaimana ini???
Seseorang
menarik lengan kiriku. Aku pun mendongak menatapnya.
“Berdiri.
Kamu tidak malu terus-terusan duduk di tengah jalan begini?” Ucapnya sambil
menarik lenganku hingga aku berdiri.
Aku
dibawa pergi dari sana. Siapa dia? Entah kenapa, walaupun aku tak kenal, tapi
aku tak kuasa menolak dibawa pergi olehnya. Aku tak tahu kenapa? Mungkin karena
aku baru patah hati, jadi butuh seseorang untuk menemaniku. Aku terus menutup
hidungku yang masih mimisan. Sekarang darahnya sudah tidak keluar banyak lagi
seperti tadi. Sembari jalan, aku memperhatikan orang yang membawaku ini. Sebenarnya
mau dibawa kemana aku ini? Dari tadi hanya berjalan saja. Aku terus
memperhatikannya. Badannya tinggi juga. Tapi menurutku dia sedikit aneh. Matahari
sangat terik sekarang. Tapi dia malah memakai jaket tebal dan sebuah syal yang
bergelantungan dilehernya.
Apa
dia gak kepanasan ya? Heran juga aku melihatnya. Hehehe.
Kami
melewati taman yang banyak bunganya *yaiyalah, masak banyak binatangnya? ^^v*
Di tengah taman ada lapangan basket.
‘Taman
yang indah, tapi terlalu sepi untuk taman sebesar ini.’ Batinku
“Duduklah
disini,” katanya tiba-tiba.
Aku
langsung duduk karena memang aku sudah lelah terus-terusan mendapat masalah di
tambah lagi berjalan kaki yang lumayan jauh barusan (?). dia merogoh sakunya,
mengambil sebuah saputangan lalu diberikan padaku.
“Pakailah,
untuk menahan darah yang keluar,” ucapnya.
Akupun
menerimanya dan segera ku tutupkan ke hidungku. Kalau di lihat-lihat, dia
lumayan tampan. Sayangnya dia memakai kaca mata hitam, sehingga aku tidak tau
bagaimana matanya. Aku berpikir sejenak, jangan-jangan dia vampire? Habis dia
pakai baju yang tebal dan tertutup rapat begitu. Apalagi dia menarikku yang
sedang mimisan. Mungkin dia tergiur dengan bau darahku. Hahaha. *plak*
Mana
mungkin… tapi kalau seandainya benar? Aku terdiam. Berhenti berpikir yang
tidak-tidak.
“Tunggulah
disini sebentar, aku akan membelikan minuman untukmu.” Ujarnya.
Kemudian
dia berlari ke minimarket di seberang jalan. Aku terkejut dengan tindakannya
yang tiba-tiba itu.
“Oppa,
tidak perlu. Aku tidak mau merepotkan.” Teriakku padanya. Namun dia terus berlari.
Sepertinya dia tidak mendengar teriakanku.
Hah,
ya sudahlah. Akupun memutuskan untuk menunggunya sambil membaca novel Harry
Potter *darimana nih buku ya?* yang belum selesai ku baca. Darah yang mengalir
dari hidungku sudah berhenti. Sapu tangannya telah penuh dengan darahku. Mungkin
aku akan membelikannya saputangan yang baru. Keadaan saputangannya sudah tidak
layak. Aku memperhatikan minimarket di seberang, ‘lama sekali. Ngapain aja sih
dia?’ batinku.
Ah,
baru juga diomongin tidak keluar-keluar, dia sudah berlar-lari ke arahku dengan
menenteng (?) sekantong tas plastic besar yang isinya penuh. Apa saja yang di
beli?
“Mian
lama,” ucapnya sambil tersenyum meskipun ngos-ngosan. *bayangin gummy
smilenya.. ^^*
Aku
menggelengkan kepalaku.
“Gwenchanayo
oppa..” sahutku sambil tersenyum.
“Aku
belikan susu. Tapi, karena aku tidak tau kamu suka yang mana, jadi aku beli
semuanya,” ujarnya sambil membuka lebih lebar tas itu. Aku menunduk melihat isi
tas itu. Mulai dari banana milk, strawberry milk *ini siy favoritnya si
kunyuk.. ^^* , melon milk, choco milk, vanilla milk, coffee milk dan masih
banyak yang lainnya. Kalau kusebutkan satu persatu, bisa-bisa sepanjang
membahas skripsi.
“Banyaknya……
Mau di jual lagi ya oppa?” tanyaku bercanda. Dia hanya tersenyum. ‘manis’
batinku. J
“Kau
memanggilku ‘oppa’?” dia balik bertanya.
“Kau
terlihat lebih tua dariku. Jadi aku memanggilmu oppa. Kau tidak suka, atau
ternyata kamu lebih muda dariku?” ucapku.
“Berapa
umurmu?” tanyanya.
“22
tahun,” jawabku langsung.
“Hm,
kamu memang harus memanggilku oppa,” ujarnya sambil menunjukkan gummy smile
nya.
“Arraso
oppa,” jawabku, tersenyum.
Drrrttt…
Drrrttt…
Suara
getar hp. Sepertinya bukan punyaku. Karena dari tadi hp ku mati. Dia mengambil
hp dari saku celananya. Dia agak menjauh saat menerima teleponnya. Tak lama
pembicaraan pun selesai.
“Oppa,
kembali saja kalau oppa sibuk,” kataku saat dia sudah ada di hadapanku.
“Ne,
hajiman, aku akan menyelesaikanmu dulu,” ucapnya.
Mwo?
Maksudnya?
Dia
tiba-tiba berlutut di depanku. Hal itu sukses membuatku salah tingkah *GR
banget ya? #plakk* Lalu dia membersihkan kakiku yang lecet saat jatuh tadi
dengan air putih yang dibelinya. Kemudian dia mengambil obat merah dan plester
dari kantong plastik. Di oleskannya obat merah itu ke kakiku lalu ditempelkannya
plester ke lukaku.
Dia
melihatku, lalu tersenyum.
“Kenapa
wajahmu memerah seperti udang rebus gitu?” ujarnya sambil tertawa kecil dan
mencolek pipiku.
Eh?
Wajahku memerah? Aku tidak sadar. Ya, mau bagaimana lagi. Aku malu diperlakukan
seperti itu.
“Gomawo
oppa,” kataku
“Gwenchanayo.
Lain kali lihat langkahmu, jangan sampai jatuh lagi,” ujarnya sambil
mengacak-acak rambutku.
“Ne
oppa,”
“Aku
harus kembali. Hati-hatilah pulangnya dan jangan lupa susunya diminum. Annyeong,”
pamitnya sambil tersenyum.
Aku
mengangguk. Kemudian dia berjalan meninggalkanku. Oh ya, aku lupa belum
menanyakan namanya. Pabo!!!
“Oppa,
siapa namamu?” teriakku padanya yang sudah berjalan agak jauh.
Dia
menoleh mendengar panggilanku.
“Lee
HyukJae,” jawabnya sambil melambaikan tangan padaku.
Aku
tersenyum membalas lambaian tangannya. Lee Hyuk Jae? Aku seperti pernah
mendengar namanya. Tapi dimana ya? Entahlah aku pikir nanti saja. Akupun
berjalan pulang dengan perasaan senang. Sakit hati yang tadipun terlupakan.
“Lee
Hyuk Jae,” gumamku. J
-To
Be Continue-
Note:
Pliz… pliz… pliz komen ya… Aku pengen bikin FF sendiri juga soalnya. Hehehehe…
^^v
Gamsahamnida…
:*
-Kim Jae Yi-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar